Rencana
Allah
“Nenek. Nada kangen mama, Nada kangen papa. Mama dan papa Nada
dimana nek? Kenapa mereka tinggalin Nada? Nada pengen ketemu mama sama papa
nek.”
Pertanyaan
itu yang sering dilontarkan Nada setiap hari kepada neneknya. Sejak kecil
hingga ia sekarang berusia 6 tahun tinggal bersama neneknya. Orang tuanya cerai
dan pergi meninggalkannya.
Nenek Sri
yang setiap harinya bekerja demi mendapatkan upah untuknya dan cucunya makan.
Meski upahnya tak seberapa, tak bisa untuk menyekolahkan Nada, namun Nada tak
pernah menuntut apa-apa dari neneknya. Iapun sering ikut dengan neneknya pergi
bekerja untuk membantu. Dimata nenek Sri, Nada adalah anak yang sangat pintar
walaupun tak pernah duduk dibangku sekolah. Nada adalah anak yang penurut, ia
tak pernah menunjukkan rasa irinya kepada nenek Sri jika melihat anak-anak
seusianya memakai seragam putih-merah dengan beralaskan sepatu dikakinya dan memakai
tas ransel hendak ke sekolah. Karena ia tahu jika rasa itu ia tunjukkan kepada
neneknya, pasti neneknya akan sedih. Sementara ia tak mau melihat neneknya
sedih.
“Nada yang sabar yaa,, nanti kalau Nada udah besar, mama dan papa
Nada akan jemput Nada”.
Kalimat itu
yang sering diucapkan nenek Sri ketika Nada menanyakan soal orang tuanya. Ia
tak bermaksud untuk berbohong kepada cucu kesayangannya itu, ia hanya ingin
melihat cucunya bahagia. Tak ada yang bisa si nenek lakukan kecuali mengatakan
kalimat itu kepada cucu kesayangannya Nada, karena hanya itu yang bisa si nenek
lakukan untuk menghibur Nada jika ia rindu pada orang tuanya.
Nenek Sri tak
peduli akibat dari perkataannya itu, yang penting baginya Nada bahagia.
Hingga suatu
hari, nenek Sri merasa tak sanggup lagi melihat Nada terus-terusan hidup
seperti ini. Ia ingin cucunya hidup bahagia seperti anak-anak lainnya. Punya
orang tua, banyak teman, memakai seragam putih-merah dan berangkat kesekolah
bersama teman-temannya.
Melihat
usianya yang sudah semakin tua, nenek Sri meminta bantuan kepada tetangganya,
pak Ridwan. Nenek Sri meminta agar dicarikan sepasang suami istri yang mau
menjadikan Nada sebagai anak angkatnya.
Tak banyak
komentar Pak Ridwanpun berniat membawa pergi Nada ke Kota Gorontalo. Ia
teringat kalau ada temannya yang sudah puluhan tahun menikah tapi belum
dikaruniai seorang anak. Pak Ibas namanya. Ia bermaksud dan berharap mereka mau
mengadopsi Nada sebagai anak angkat mereka.
“Nada. Cucu nenek yang pinter, Nada maukan pergi sama Om Ridwan
besok?”. Bujuk sang nenek.
“Kemana Nek?”.
“Om Ridwan mau bawa kamu ke orang tua kamu di Gorontalo, kamu mau
kan?”.
“Asiiiiiik,, ketemu sama mama dan papaa.. aku mau nek.” Teriak Nada
kegirangan.
Nenek Sri
yang saat itu tak bisa menahan air matanya langsung memeluk Nada. Rasanya
seperti tak ingin berpisah dengan cucu kesayangannya itu.
“Nenek kenapa? Kok nangis?” Tanya Nada
sambil mengusap airmata dipipi neneknya.
“Nenek gak kenapa-kenapa sayang, nenek hanya flu aja, kepala nenek
sakit, pengen tidur, kita tidur yuk?” bujuk sang
nenek.
Nenek Sri
berhasil membuat Nada tak curiga padanya karena air matanya yang semakin deras.
Nadapun
dengan kepolosannya menganggap itu hanya flu dan sakit kepala saja. Iapun
tertidur dalam pelukan neneknya.
Keesokan
harinya Pak Ridwan dan Nada berangkat ke Kota Gorontalo untuk menemui Pak Ibas
teman lamanya itu. Nada yang dengan bahagianya tak sabar ingin bertemu kedua
orang tuanya. Tapi anehnya Pak Ridwan belum menceritakan lebih dulu masalah ini
kepada Pak Ibas.
Setibanya di
Kota Gorontalo, Pak Ridwan langsung membawa Nada kerumahnya Pak Ibas, tapi Pak Ibas
lagi tak ada dirumah, ia lagi keluar bersama istrinya. Sementara Nada yang
sudah kecapean disuruh istirahat dikursi depan rumahnya pak Ibas, ia
meninggalkan Nada sendirian tertidur, karena masih membeli makanan diwarung
sebelah.
Begitu Pak Ibas
dan istrinya tiba dirumahnya, mereka kaget melihat seorang anak kecil yang
tertidur pulas diatas kursi depan rumahnya. Mereka saling bertanya ini anak
siapa, tapi tak ada yang tahu.
Nadapun
terbangun dari tidurnya. Melihat Pak Ibas dan istrinya berdiri didepannya,
iapun langsung berlari menuju Pak Ibas dan memeluk erat-erat tubuh Pak Ibas
sambil berteriak ‘papaa… mamaa…’. Pak Ibas dan Bu’ Tati istrinya terkejut
mendengar panggilan itu. Sudah sekian lama tak pernah ada yang memanggil mereka
dengan sebutan itu, tapi sekarang entah darimana asal anak kecil didepan mereka
ini dengan spontan memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa. Seperti
seorang anak yang sudah sekian lama berpisah dan baru berjumpa dengan orang
tuanya.
Hati mereka
sangat bahagia. Apa ini jawaban dari doa mereka selama ini, mereka berfikir
sungguh rencana Allah sangatlah indah.
“mama, papa… kenapa kalian meninggalkan Nada sendirian dengan
nenek? Setiap hari Nada selalu merindukan mama dan papa. Mama dan papa janji
yaa, jangan tinggalin Nada lagi, kasihan nenek sudah tua sering bekerja untuk
makan Nada setiap hari”.
Hati Pak Ibas
tersentuh begitu mendengar perkataan Nada. Walaupun ia baru melihat Nada dan ia
tidak tahu siapa nenek yang diceritakan Nada barusan, tapi ia merasa bahwa Nada
adalah anak yang dikirimkan Allah kepadanya. Ia ingin berterima kasih kepada si
nenek itu karena sudah merawat Nada. Iapun langsung memeluk Nada dalam
tangisannya.
Setelah
beberapa menit berlalu, Pak Ridwan kembali dari membeli makanan diwarung
sebelah. Kemudian Pak Ridwan langsung menjelaskan semuanya tentang Nada kepada
Pak Ibas. Ternyata kata-kata neneknya sudah tertanam dalam hatinya, bahwa suatu
saat jika ia sudah besar nanti orang tuanya akan menjemputnya. Maka ketika
bertemu dengan Pak Ibas dan Bu Tati ia menganggap bahwa merekalah orang tuanya.
Mulai hari
itu juga Nada tinggal bersama Pak Ibas dan Bu Tati. Mereka tinggal bersama
layaknya keluarga yang utuh. Bu Tati selalu mengajarkan Nada membaca dan berhitung,
anehnya hanya dalam waktu dua hari Nada sudah lancar membaca dan berhitung
bahkan ia sudah hafal semua huruf hijaiyah. Sesegera mungkin Pak Ibas
menyekolahkannya disekolah dasar Madrasah Ibtida’iyah.
Suatu hari,
ketika berada di meja makan. Bu Tati sengaja memasak masakan yang enak. Kali
ini mereka tak makan berdua lagi, sekarang sudah ada seorang anak diantara
mereka. Saat itu Pak Ibas menyendokkan sesendok nasi diatas piring Nada,
kemudian ia mengabiskan makanannya dengan lahap tanpa tersisa dan tanpa meminta
nambah lagi. Melihat kejadian itu Pak Ibas mulai menyendokkan nasi diatas
piring Nada lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Iapun menghabiskannya dengan
lahap tanpa tersisa. Ternyata setelah Pak Ibas selidiki, Nada akan makan
makanan yang diberikan Pak Ibas dan Bu Tati sebanyak ataupun sesedikit apapun
makanannya, yang penting itu pemberian dari orang tuanya.
Pak Ibaspun
langsung menanyakan kepada Nada kenapa ia bersikap demikian.
“Nada sayang, kenapa kemarin waktu papa sendokkan hanya sesendok
nasi diatas piring kamu, kamu gak minta nambah? Sedangkan sekarang papa
sendokkan lebih, kamu makannya juga sangat lahap? Kamu masih malu yaa sama mama
dan papa?”. Tanya Pak Ibas.
“Nggak Pa, Nada nggak malu. Dulu waktu tinggal sama nenek, Nada
akan makan sesuai yang nenek sendokkan diatas piring Nada. Karena Nada tahu,
hanya itu kemampuan nenek membelikan makanan untuk Nada, jadi Nada nggak minta
nambah.” Jelas Nada.
Lagi-lagi perkataan
Nada membuat pak Ibas dan Bu Tati tak bisa menahan air mata mereka. Tak
henti-hentinya pak Ibas mengucapkan rasa syukur kepadaNya, karena sudah
memberikan anak kepada mereka yang hatinya begitu sabar seperti Nada. Pak Ibas
dan Bu Tati langsung memeluk anak angkat mereka itu dengan tangisan penuh bangga.
“sayang, kamu sekarang sudah tinggal sama mama dan papa, jadi
jangan sungkan-sungkan lagi yaa kalau mau minta apa-apa. Insya Allah mama akan
kasih apa yang Nada minta semampu mama.” Bujuk Bu
Tati.
Dua bulan kemudian Pak Ibas dan Bu Tati mengajak
Nada untuk pergi menemui neneknya dikampung halamannya di Kecamatan Buntulia
tepatnya di desa Taluduyunu. Nada yang begitu bahagianya bertemu dengan
neneknya, langsung memeluk dan mencium-cium neneknya dan tak lupa membelikannya
mukenah, karena ia tahu mukenah yang sering dipakai neneknya sudah sobek. Pak
Ibaspun mengajak nenek Sri tinggal bersama mereka di Kota Gorontalo.Oleh : Nurlaila Abdurrahman
