Rabu, 15 April 2015

Rencana Allah
“Nenek. Nada kangen mama, Nada kangen papa. Mama dan papa Nada dimana nek? Kenapa mereka tinggalin Nada? Nada pengen ketemu mama sama papa nek.”
Pertanyaan itu yang sering dilontarkan Nada setiap hari kepada neneknya. Sejak kecil hingga ia sekarang berusia 6 tahun tinggal bersama neneknya. Orang tuanya cerai dan pergi meninggalkannya.
Nenek Sri yang setiap harinya bekerja demi mendapatkan upah untuknya dan cucunya makan. Meski upahnya tak seberapa, tak bisa untuk menyekolahkan Nada, namun Nada tak pernah menuntut apa-apa dari neneknya. Iapun sering ikut dengan neneknya pergi bekerja untuk membantu. Dimata nenek Sri, Nada adalah anak yang sangat pintar walaupun tak pernah duduk dibangku sekolah. Nada adalah anak yang penurut, ia tak pernah menunjukkan rasa irinya kepada nenek Sri jika melihat anak-anak seusianya memakai seragam putih-merah dengan beralaskan sepatu dikakinya dan memakai tas ransel hendak ke sekolah. Karena ia tahu jika rasa itu ia tunjukkan kepada neneknya, pasti neneknya akan sedih. Sementara ia tak mau melihat neneknya sedih.
“Nada yang sabar yaa,, nanti kalau Nada udah besar, mama dan papa Nada akan jemput Nada”.
Kalimat itu yang sering diucapkan nenek Sri ketika Nada menanyakan soal orang tuanya. Ia tak bermaksud untuk berbohong kepada cucu kesayangannya itu, ia hanya ingin melihat cucunya bahagia. Tak ada yang bisa si nenek lakukan kecuali mengatakan kalimat itu kepada cucu kesayangannya Nada, karena hanya itu yang bisa si nenek lakukan untuk menghibur Nada jika ia rindu pada orang tuanya.
Nenek Sri tak peduli akibat dari perkataannya itu, yang penting baginya Nada bahagia.
Hingga suatu hari, nenek Sri merasa tak sanggup lagi melihat Nada terus-terusan hidup seperti ini. Ia ingin cucunya hidup bahagia seperti anak-anak lainnya. Punya orang tua, banyak teman, memakai seragam putih-merah dan berangkat kesekolah bersama teman-temannya.
Melihat usianya yang sudah semakin tua, nenek Sri meminta bantuan kepada tetangganya, pak Ridwan. Nenek Sri meminta agar dicarikan sepasang suami istri yang mau menjadikan Nada sebagai anak angkatnya.
Tak banyak komentar Pak Ridwanpun berniat membawa pergi Nada ke Kota Gorontalo. Ia teringat kalau ada temannya yang sudah puluhan tahun menikah tapi belum dikaruniai seorang anak. Pak Ibas namanya. Ia bermaksud dan berharap mereka mau mengadopsi Nada sebagai anak angkat mereka.
“Nada. Cucu nenek yang pinter, Nada maukan pergi sama Om Ridwan besok?”. Bujuk sang nenek.
“Kemana Nek?”.
“Om Ridwan mau bawa kamu ke orang tua kamu di Gorontalo, kamu mau kan?”.
“Asiiiiiik,, ketemu sama mama dan papaa.. aku mau nek.” Teriak Nada kegirangan.
Nenek Sri yang saat itu tak bisa menahan air matanya langsung memeluk Nada. Rasanya seperti tak ingin berpisah dengan cucu kesayangannya itu.
“Nenek kenapa? Kok nangis?” Tanya Nada sambil mengusap airmata dipipi neneknya.
“Nenek gak kenapa-kenapa sayang, nenek hanya flu aja, kepala nenek sakit, pengen tidur, kita tidur yuk?” bujuk sang nenek.
Nenek Sri berhasil membuat Nada tak curiga padanya karena air matanya yang semakin deras.
Nadapun dengan kepolosannya menganggap itu hanya flu dan sakit kepala saja. Iapun tertidur dalam pelukan neneknya.
Keesokan harinya Pak Ridwan dan Nada berangkat ke Kota Gorontalo untuk menemui Pak Ibas teman lamanya itu. Nada yang dengan bahagianya tak sabar ingin bertemu kedua orang tuanya. Tapi anehnya Pak Ridwan belum menceritakan lebih dulu masalah ini kepada Pak Ibas.
Setibanya di Kota Gorontalo, Pak Ridwan langsung membawa Nada kerumahnya Pak Ibas, tapi Pak Ibas lagi tak ada dirumah, ia lagi keluar bersama istrinya. Sementara Nada yang sudah kecapean disuruh istirahat dikursi depan rumahnya pak Ibas, ia meninggalkan Nada sendirian tertidur, karena masih membeli makanan diwarung sebelah.
Begitu Pak Ibas dan istrinya tiba dirumahnya, mereka kaget melihat seorang anak kecil yang tertidur pulas diatas kursi depan rumahnya. Mereka saling bertanya ini anak siapa, tapi tak ada yang tahu.
Nadapun terbangun dari tidurnya. Melihat Pak Ibas dan istrinya berdiri didepannya, iapun langsung berlari menuju Pak Ibas dan memeluk erat-erat tubuh Pak Ibas sambil berteriak ‘papaa… mamaa…’. Pak Ibas dan Bu’ Tati istrinya terkejut mendengar panggilan itu. Sudah sekian lama tak pernah ada yang memanggil mereka dengan sebutan itu, tapi sekarang entah darimana asal anak kecil didepan mereka ini dengan spontan memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa. Seperti seorang anak yang sudah sekian lama berpisah dan baru berjumpa dengan orang tuanya.
Hati mereka sangat bahagia. Apa ini jawaban dari doa mereka selama ini, mereka berfikir sungguh rencana Allah sangatlah indah.
“mama, papa… kenapa kalian meninggalkan Nada sendirian dengan nenek? Setiap hari Nada selalu merindukan mama dan papa. Mama dan papa janji yaa, jangan tinggalin Nada lagi, kasihan nenek sudah tua sering bekerja untuk makan Nada setiap hari”.
Hati Pak Ibas tersentuh begitu mendengar perkataan Nada. Walaupun ia baru melihat Nada dan ia tidak tahu siapa nenek yang diceritakan Nada barusan, tapi ia merasa bahwa Nada adalah anak yang dikirimkan Allah kepadanya. Ia ingin berterima kasih kepada si nenek itu karena sudah merawat Nada. Iapun langsung memeluk Nada dalam tangisannya.
Setelah beberapa menit berlalu, Pak Ridwan kembali dari membeli makanan diwarung sebelah. Kemudian Pak Ridwan langsung menjelaskan semuanya tentang Nada kepada Pak Ibas. Ternyata kata-kata neneknya sudah tertanam dalam hatinya, bahwa suatu saat jika ia sudah besar nanti orang tuanya akan menjemputnya. Maka ketika bertemu dengan Pak Ibas dan Bu Tati ia menganggap bahwa merekalah orang tuanya.
Mulai hari itu juga Nada tinggal bersama Pak Ibas dan Bu Tati. Mereka tinggal bersama layaknya keluarga yang utuh. Bu Tati selalu mengajarkan Nada membaca dan berhitung, anehnya hanya dalam waktu dua hari Nada sudah lancar membaca dan berhitung bahkan ia sudah hafal semua huruf hijaiyah. Sesegera mungkin Pak Ibas menyekolahkannya disekolah dasar Madrasah Ibtida’iyah.
Suatu hari, ketika berada di meja makan. Bu Tati sengaja memasak masakan yang enak. Kali ini mereka tak makan berdua lagi, sekarang sudah ada seorang anak diantara mereka. Saat itu Pak Ibas menyendokkan sesendok nasi diatas piring Nada, kemudian ia mengabiskan makanannya dengan lahap tanpa tersisa dan tanpa meminta nambah lagi. Melihat kejadian itu Pak Ibas mulai menyendokkan nasi diatas piring Nada lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Iapun menghabiskannya dengan lahap tanpa tersisa. Ternyata setelah Pak Ibas selidiki, Nada akan makan makanan yang diberikan Pak Ibas dan Bu Tati sebanyak ataupun sesedikit apapun makanannya, yang penting itu pemberian dari orang tuanya.
Pak Ibaspun langsung menanyakan kepada Nada kenapa ia bersikap demikian.
“Nada sayang, kenapa kemarin waktu papa sendokkan hanya sesendok nasi diatas piring kamu, kamu gak minta nambah? Sedangkan sekarang papa sendokkan lebih, kamu makannya juga sangat lahap? Kamu masih malu yaa sama mama dan papa?”. Tanya Pak Ibas.
“Nggak Pa, Nada nggak malu. Dulu waktu tinggal sama nenek, Nada akan makan sesuai yang nenek sendokkan diatas piring Nada. Karena Nada tahu, hanya itu kemampuan nenek membelikan makanan untuk Nada, jadi Nada nggak minta nambah.” Jelas Nada.
Lagi-lagi perkataan Nada membuat pak Ibas dan Bu Tati tak bisa menahan air mata mereka. Tak henti-hentinya pak Ibas mengucapkan rasa syukur kepadaNya, karena sudah memberikan anak kepada mereka yang hatinya begitu sabar seperti Nada. Pak Ibas dan Bu Tati langsung memeluk anak angkat mereka itu dengan tangisan penuh bangga.
“sayang, kamu sekarang sudah tinggal sama mama dan papa, jadi jangan sungkan-sungkan lagi yaa kalau mau minta apa-apa. Insya Allah mama akan kasih apa yang Nada minta semampu mama.” Bujuk Bu Tati.
Dua bulan kemudian Pak Ibas dan Bu Tati mengajak Nada untuk pergi menemui neneknya dikampung halamannya di Kecamatan Buntulia tepatnya di desa Taluduyunu. Nada yang begitu bahagianya bertemu dengan neneknya, langsung memeluk dan mencium-cium neneknya dan tak lupa membelikannya mukenah, karena ia tahu mukenah yang sering dipakai neneknya sudah sobek. Pak Ibaspun mengajak nenek Sri tinggal bersama mereka di Kota Gorontalo.


Oleh : Nurlaila Abdurrahman
Aku Sayang Ibu

Siang bolong. Terdengar suara dua bocah kecil menangis dari samping rumahku.

Awalnya ibuku mengira itu hanya karena kenakalan anak-anak saja. Maklumlah dikompleks rumahku banyak anak-anak.

Adikku dengan rasa penasarannya ia mengintip dari balik jendela.
Ia kaget dan merasa takut ketika melihat seorang  ibu dan ayah dari kedua anak itu bertengkar.
Ibunya yang sudah terkapar didekat pagar samping halaman rumahku, sedangkan ayahnya menyeret-nyeret tubuh ibunya diatas kerikil-kerikil tajam.

Adikku langsung memberi tahu kepada ibu. Ibupun langsung bergegas dan berusaha menghentikan pertengkaran tersebut. Ibu merasa kasihan kepada istrinya yang diseret-seret diatas kerikil tajam samping rumahku.

Tak ada perubahan. Pertengkaran terus berlangsung, mereka tak menghiraukan ibuku yang  sudah berusaha menghentikannya. Ibuku dengan paniknya langsung meminta bantuan kepada tetangga-tetangga untuk mnghentikan pertengkaran mereka.
Dan para tetangga pada berdatangan dan menghentikan pertengkaran tersebut. Untungnya ada polisi lewat depan rumahku, iapun langsung menghentikannya dan menanyakan duduk perkara tersebut.
Salah satu dari anak mereka berlari menangis entah kemana tujuannya. Ternyata ia disuruh bapaknya untuk lari dan jangan mendekati ibunya, entah apa maksudnya.

Ibuku yang melihatnya langsung memanggil dan merangkulnya kemudian membawanya masuk kerumah kami. Segera ku ambilkan air putih, iapun langsung meminumnya dengan segera seperti orang yang sangat kehausan.

“Kasihan sekali anak ini bu”. Aku merasa kasian padanya, anak sekecil ini seharusnya merasakan kasih sayang dari orang tuanya, dia malah menyaksikan sendiri pertengkaran kedua orang tuanya.

“Nak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa orang tuamu bertengkar lagi?”. Tanya ibuku kepada Andi.

Hampir setiap hari orang tuanya bertengkar. Tapi, untuk kali ini kami sebagai tetangga tidak tinggal diam, karena mereka bertengkar tepat dihalaman samping rumahku.

Hidung Pak Pras berdarah karena dilempari istrinya dengan batu, luka-luka bekas lemparan batu juga terlihat dari punggung Pak Pras. Begitupun dengan anak bungsunya, berkali –kali Bu Astri melempari anak bungsunya dengan batu. Tapi sang anak terus menghindar dan iapun tidak terluka seperti yang di alami bapaknya yaitu Pak Pras.

Andi. Namanya Andi, anak bungsu dari Pak Pras dan Bu Astri. Setelah menghabiskan segelas air yang kuberikan padanya, iapun langsung menjelaskan kepada aku dan ibu kenapa orang tuanya bertengkar.

“Sebenarnya Bu Astri itu adalah ibu tiriku kak, dan Pak Pras adalah bapak kandungku. Sedangkan kak Alif adalah anak kandung dari Bu Astri dan bapakku adalah bapak tirinya”. Jelas Andi dengan suara terbata-bata karena menahan tangisannya.

Jadi, sebenarnya Bu Astri dan Pak Pras itu menikah sudah mempunyai anak masing-masing dari pasangan mereka sebelumnya dan belum mempunyai anak dari pernikahan mereka.

Baru sekarang kami mengetahui yang sesungguhnya, karena pertama kali mereka pindah  didesa ini mereka adalah tetangga kami yang paling tertutup dari tetangga-tetangga lainnya.

“Hampir setiap hari jika bapak pergi kerja, aku selalu dipukuli ibu, aku disuruh menyapu, mengepel, mencuci piring, memasak, sampai menyediakan air untuk ibu mandi itu semua aku yang kerjakan. Sementara kakakku Alif hanya bersenang-senang bermain layangan dengan teman-temannya dilapangan. Aku akan dimarahi dan dipukul ibu kalau aku ikut bermain dengan kak Alif.”

Air mataku menetes mendengar pengakuan dari Andi. Anak sekecil ini harus bekerja pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa atau ibunya sebagai seorang istri dari bapaknya.

“Pernah suatu hari, ketika bapak pulang dari kerja, upah yang didapatkan bapak dari kerjanya sebagai kuli bangunan diambil oleh ibu semuanya, tanpa disisakan sedikitpun untuk bapak. Uangnya dihabiskan ibu dan kak Alif pergi bersenang-senang. Sementara aku dan bapak dirumah kelaparan tak ada makanan, persediaan beraspun sudah habis”. Jelas Andi kembali.

“Pernah juga ketika bapak pergi dengan teman-teman kerjanya menuju tempat kerja, belum sampai ke tempat tujuan ibu sudah menelpon menyuruh bapak untuk pulang kerumah, hanya untuk mengambilkan air untuknya mandi. Setiap kali ibu dan bapak bertengkar, ibu selalu memukuli punggung bapak dengan batu hingga berdarah, tapi bapak tak pernah membalas, dia hanya diam saja. Jika uang dari hasil kerja bapak lebih, ibu selalu menuduh bapak yang tidak-tidak, ia mengatakan kalau uang itu hasil dari bapak mencuri atau main judi. Padahal bapak tidak pernah sama sekali melakukan itu. Mungkin sekarang kesabaran bapak sudah habis, maka dari itu bapak memukul dan menyeret-nyeret ibu seperti tadi.
Kata bapak tadi, bapak akan menceraikan ibu”. Kali ini  air mata Andi tak bisa ditahan lagi, ia sedih ketika mendengar bapaknya akan menceraikan ibu tirinya.

“Aku tak punya ibu lagi kak, tak ada lagi yang membangunkanku diwaktu sekolah. Tak ada lagi yang membangunkan aku sahur jika puasa nanti, aku pasti akan kangen banget sama ibu, aku sayang sama ibu kak.”

Ku peluk erat-erat tubuh mungil yang kurus didepanku, tak kuasa aku mendengar semua curahan hatinya. Aku tak habis pikir ia begitu sayang pada ibunya, sedangkan ibunya selalu dan hampir setiap hari menyiksanya. Aku salut padamu Andi, anak sekecil kamu mempunyai hati yang begitu baik, tak ada rasa dendam sedikitpun. Tiba-tiba aku merasa iri pada Andi, dengan hatiku ini yang masih rapuh dan mungkin masih ada dendam kapada orang lain.

“Sabar ya dek, masih ada kakak disini. Kamu bisa datang semau kamu, pintu rumah kakak selalu terbuka untukmu, kakak akan membantumu sabisa mungkin semampu kakak, kamu jangan sungkan-sungkan datang kesini yaa, Insyaa Allah kejadian ini ada hikmahnya untuk kamu, bapak, ibu, kakak kamu dan untuk kita semua.”

Keesokkan harinya. Seperti biasanya setelah sholat subuh aku selalu menghabiskan 1 juz Al-Qur’an untuk mengaji.
Tiba-tiba terdengar ada orang yang mengetuk pintu rumahku.

“Assalamu’alaikum…..” . terdengar suara seorang anak kecil yang tak asing lagi bagiku memberi salam dari balik pintu.

“Wa’alaikum salam warahmatullah”. Jawabku dengan segera menyelesaikan bacaan Qur’anku dan bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.

“Andi??? Ada apa? Kamu mau kemana? Pagi-pagi gini kok udah rapi?”.

Andi tak menjawab satupun pertanyaan dariku. Ia hanya menangis dan langsung memeluk tubuhku erat-erat. Aku bingung, kenapa Andi tiba-tiba menangis, apakah pertanyaanku salah? Atau?. Aku jadi takut jangan-jangan dia habis dipukuli ibu tirinya lagi. Tapi itu tidak mugkin, karena melihat penampilannya saat ini yang sudah rapi seperti mau pergi, lagian aku juga tidak bisa langsung su’udzhon.

“A,,a,ku ma..u pa..mi..tan kak. A..aku ma..u per..gi sama ba..pak.” Suaranya tersendat-sendat karena menahan tangis. “Te..rima ka..sih a..tas se..muanya ya kak, a..ku pasti sangat merindu..kan ka..kak.”

Akupun tak tahan menahan air mataku dan langsung memeluk erat Andi. Walaupun belum lama kita saling mengenal, dia sudah seperti adikku sendiri. Aku sangat menyayanginya.

“Kalian mau kemana dek? Kakak juga pasti akan sangat merindukanmu.”

“Kami mau ke kampung saya nak, di Palu, Sulawesi Tengah”.

Tiba-tiba ada suara seorang bapak terdengar dari arah belakang Andi  dan menjawab pertanyaan yang kutujukan pada Andi. Dan itu adalah bapaknya Andi.

“Pak Pras?,, Terus rumahnya?. Tanyaku pada Pak Pras sambil menunjuk ke arah rumah mereka tepatnya berada disamping rumahku. Karena ku tau setelah kejadian kemarin, Bu Astri langsung pergi ke kampung halamannya juga dengan membawa semua pakaiannya serta Alif anaknya.

“Insyaa Allah rumah kami nanti akan ada yang nempatin. Sekali lagi terima kasih ya nak Nisa, sudah menjadi tetangga yang baik buat kami.” Jawab Pak Pras.

“Iya pak, sama-sama. Sebagai tetangga kita harus saling membantu. Jaga dirimu baik-baik ya Andi, kak Nisa akan selalu merindukanmu”.

“Kalau begitu kami pergi dulu ya nak. Assalamu’alaikum…”.

“Iya pak. Hati-hati  dijalan. Wa’alaikumsalam warahmatullah…”  

Merekapun berlalu meninggalkanku yang masih mematung di depan rumahku melihat kepergian mereka.



Oleh : Nurlaila Abdurrahman