Aku Sayang Ibu
Siang bolong. Terdengar suara dua bocah
kecil menangis dari samping rumahku.
Awalnya ibuku mengira itu hanya karena
kenakalan anak-anak saja. Maklumlah dikompleks rumahku banyak anak-anak.
Adikku dengan rasa penasarannya ia
mengintip dari balik jendela.
Ia kaget dan merasa takut ketika melihat
seorang ibu dan ayah dari kedua anak itu
bertengkar.
Ibunya yang sudah terkapar didekat pagar
samping halaman rumahku, sedangkan ayahnya menyeret-nyeret tubuh ibunya diatas
kerikil-kerikil tajam.
Adikku langsung memberi tahu kepada ibu.
Ibupun langsung bergegas dan berusaha menghentikan pertengkaran tersebut. Ibu
merasa kasihan kepada istrinya yang diseret-seret diatas kerikil tajam samping
rumahku.
Tak ada perubahan. Pertengkaran terus
berlangsung, mereka tak menghiraukan ibuku yang sudah berusaha menghentikannya. Ibuku dengan
paniknya langsung meminta bantuan kepada tetangga-tetangga untuk mnghentikan
pertengkaran mereka.
Dan para tetangga pada berdatangan dan
menghentikan pertengkaran tersebut. Untungnya ada polisi lewat depan rumahku,
iapun langsung menghentikannya dan menanyakan duduk perkara tersebut.
Salah satu dari anak mereka berlari
menangis entah kemana tujuannya. Ternyata ia disuruh bapaknya untuk lari dan
jangan mendekati ibunya, entah apa maksudnya.
Ibuku yang melihatnya langsung memanggil
dan merangkulnya kemudian membawanya masuk kerumah kami. Segera ku ambilkan air
putih, iapun langsung meminumnya dengan segera seperti orang yang sangat
kehausan.
“Kasihan
sekali anak ini bu”. Aku merasa kasian padanya, anak
sekecil ini seharusnya merasakan kasih sayang dari orang tuanya, dia malah
menyaksikan sendiri pertengkaran kedua orang tuanya.
“Nak,
sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa orang tuamu bertengkar lagi?”. Tanya ibuku kepada Andi.
Hampir setiap hari orang tuanya bertengkar.
Tapi, untuk kali ini kami sebagai tetangga tidak tinggal diam, karena mereka
bertengkar tepat dihalaman samping rumahku.
Hidung Pak Pras berdarah karena dilempari
istrinya dengan batu, luka-luka bekas lemparan batu juga terlihat dari punggung
Pak Pras. Begitupun dengan anak bungsunya, berkali –kali Bu Astri melempari
anak bungsunya dengan batu. Tapi sang anak terus menghindar dan iapun tidak
terluka seperti yang di alami bapaknya yaitu Pak Pras.
Andi. Namanya Andi, anak bungsu dari Pak
Pras dan Bu Astri. Setelah menghabiskan segelas air yang kuberikan padanya,
iapun langsung menjelaskan kepada aku dan ibu kenapa orang tuanya bertengkar.
“Sebenarnya
Bu Astri itu adalah ibu tiriku kak, dan Pak Pras adalah bapak kandungku.
Sedangkan kak Alif adalah anak kandung dari Bu Astri dan bapakku adalah bapak
tirinya”. Jelas Andi dengan suara terbata-bata
karena menahan tangisannya.
Jadi, sebenarnya Bu Astri dan Pak Pras itu
menikah sudah mempunyai anak masing-masing dari pasangan mereka sebelumnya dan
belum mempunyai anak dari pernikahan mereka.
Baru sekarang kami mengetahui yang
sesungguhnya, karena pertama kali mereka pindah
didesa ini mereka adalah tetangga kami yang paling tertutup dari
tetangga-tetangga lainnya.
“Hampir
setiap hari jika bapak pergi kerja, aku selalu dipukuli ibu, aku disuruh
menyapu, mengepel, mencuci piring, memasak, sampai menyediakan air untuk ibu
mandi itu semua aku yang kerjakan. Sementara kakakku Alif hanya
bersenang-senang bermain layangan dengan teman-temannya dilapangan. Aku akan
dimarahi dan dipukul ibu kalau aku ikut bermain dengan kak Alif.”
Air mataku menetes mendengar pengakuan dari
Andi. Anak sekecil ini harus bekerja pekerjaan rumah tangga yang seharusnya
dikerjakan oleh orang dewasa atau ibunya sebagai seorang istri dari bapaknya.
“Pernah
suatu hari, ketika bapak pulang dari kerja, upah yang didapatkan bapak dari
kerjanya sebagai kuli bangunan diambil oleh ibu semuanya, tanpa disisakan
sedikitpun untuk bapak. Uangnya dihabiskan ibu dan kak Alif pergi
bersenang-senang. Sementara aku dan bapak dirumah kelaparan tak ada makanan, persediaan
beraspun sudah habis”. Jelas Andi kembali.
“Pernah
juga ketika bapak pergi dengan teman-teman kerjanya menuju tempat kerja, belum
sampai ke tempat tujuan ibu sudah menelpon menyuruh bapak untuk pulang kerumah,
hanya untuk mengambilkan air untuknya mandi. Setiap kali ibu dan bapak
bertengkar, ibu selalu memukuli punggung bapak dengan batu hingga berdarah,
tapi bapak tak pernah membalas, dia hanya diam saja. Jika uang dari hasil kerja
bapak lebih, ibu selalu menuduh bapak yang tidak-tidak, ia mengatakan kalau
uang itu hasil dari bapak mencuri atau main judi. Padahal bapak tidak pernah
sama sekali melakukan itu. Mungkin sekarang kesabaran bapak sudah habis, maka
dari itu bapak memukul dan menyeret-nyeret ibu seperti tadi.
Kata
bapak tadi, bapak akan menceraikan ibu”. Kali
ini air mata Andi tak bisa ditahan lagi,
ia sedih ketika mendengar bapaknya akan menceraikan ibu tirinya.
“Aku
tak punya ibu lagi kak, tak ada lagi yang membangunkanku diwaktu sekolah. Tak
ada lagi yang membangunkan aku sahur jika puasa nanti, aku pasti akan kangen
banget sama ibu, aku sayang sama ibu kak.”
Ku peluk erat-erat tubuh mungil yang kurus
didepanku, tak kuasa aku mendengar semua curahan hatinya. Aku tak habis pikir
ia begitu sayang pada ibunya, sedangkan ibunya selalu dan hampir setiap hari
menyiksanya. Aku salut padamu Andi, anak sekecil kamu mempunyai hati yang
begitu baik, tak ada rasa dendam sedikitpun. Tiba-tiba aku merasa iri pada
Andi, dengan hatiku ini yang masih rapuh dan mungkin masih ada dendam kapada
orang lain.
“Sabar
ya dek, masih ada kakak disini. Kamu bisa datang semau kamu, pintu rumah kakak
selalu terbuka untukmu, kakak akan membantumu sabisa mungkin semampu kakak,
kamu jangan sungkan-sungkan datang kesini yaa, Insyaa Allah kejadian ini ada
hikmahnya untuk kamu, bapak, ibu, kakak kamu dan untuk kita semua.”
Keesokkan harinya. Seperti biasanya setelah
sholat subuh aku selalu menghabiskan 1 juz Al-Qur’an untuk mengaji.
Tiba-tiba terdengar ada orang yang mengetuk
pintu rumahku.
“Assalamu’alaikum…..”
. terdengar suara seorang anak kecil yang tak asing
lagi bagiku memberi salam dari balik pintu.
“Wa’alaikum
salam warahmatullah”. Jawabku dengan segera
menyelesaikan bacaan Qur’anku dan bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan
pintu.
“Andi???
Ada apa? Kamu mau kemana? Pagi-pagi gini kok udah rapi?”.
Andi tak menjawab satupun pertanyaan
dariku. Ia hanya menangis dan langsung memeluk tubuhku erat-erat. Aku bingung,
kenapa Andi tiba-tiba menangis, apakah pertanyaanku salah? Atau?. Aku jadi
takut jangan-jangan dia habis dipukuli ibu tirinya lagi. Tapi itu tidak mugkin,
karena melihat penampilannya saat ini yang sudah rapi seperti mau pergi, lagian
aku juga tidak bisa langsung su’udzhon.
“A,,a,ku
ma..u pa..mi..tan kak. A..aku ma..u per..gi sama ba..pak.” Suaranya tersendat-sendat karena menahan tangis. “Te..rima ka..sih a..tas se..muanya ya kak,
a..ku pasti sangat merindu..kan ka..kak.”
Akupun tak tahan menahan air mataku dan
langsung memeluk erat Andi. Walaupun belum lama kita saling mengenal, dia sudah
seperti adikku sendiri. Aku sangat menyayanginya.
“Kalian
mau kemana dek? Kakak juga pasti akan sangat merindukanmu.”
“Kami
mau ke kampung saya nak, di Palu, Sulawesi Tengah”.
Tiba-tiba ada suara seorang bapak terdengar
dari arah belakang Andi dan menjawab
pertanyaan yang kutujukan pada Andi. Dan itu adalah bapaknya Andi.
“Pak
Pras?,, Terus rumahnya?. Tanyaku pada Pak Pras
sambil menunjuk ke arah rumah mereka tepatnya berada disamping rumahku. Karena ku
tau setelah kejadian kemarin, Bu Astri langsung pergi ke kampung halamannya
juga dengan membawa semua pakaiannya serta Alif anaknya.
“Insyaa
Allah rumah kami nanti akan ada yang nempatin. Sekali lagi terima kasih ya nak Nisa,
sudah menjadi tetangga yang baik buat kami.” Jawab
Pak Pras.
“Iya
pak, sama-sama. Sebagai tetangga kita harus saling membantu. Jaga dirimu
baik-baik ya Andi, kak Nisa akan selalu merindukanmu”.
“Kalau
begitu kami pergi dulu ya nak. Assalamu’alaikum…”.
“Iya
pak. Hati-hati dijalan. Wa’alaikumsalam
warahmatullah…”
Merekapun berlalu meninggalkanku yang masih
mematung di depan rumahku melihat kepergian mereka.

Oleh : Nurlaila Abdurrahman
Sedih bacanya mbak, moga bapak dan anaknya dapat kehidupan yg lebih baik.
BalasHapus