Rabu, 15 April 2015

Aku Sayang Ibu

Siang bolong. Terdengar suara dua bocah kecil menangis dari samping rumahku.

Awalnya ibuku mengira itu hanya karena kenakalan anak-anak saja. Maklumlah dikompleks rumahku banyak anak-anak.

Adikku dengan rasa penasarannya ia mengintip dari balik jendela.
Ia kaget dan merasa takut ketika melihat seorang  ibu dan ayah dari kedua anak itu bertengkar.
Ibunya yang sudah terkapar didekat pagar samping halaman rumahku, sedangkan ayahnya menyeret-nyeret tubuh ibunya diatas kerikil-kerikil tajam.

Adikku langsung memberi tahu kepada ibu. Ibupun langsung bergegas dan berusaha menghentikan pertengkaran tersebut. Ibu merasa kasihan kepada istrinya yang diseret-seret diatas kerikil tajam samping rumahku.

Tak ada perubahan. Pertengkaran terus berlangsung, mereka tak menghiraukan ibuku yang  sudah berusaha menghentikannya. Ibuku dengan paniknya langsung meminta bantuan kepada tetangga-tetangga untuk mnghentikan pertengkaran mereka.
Dan para tetangga pada berdatangan dan menghentikan pertengkaran tersebut. Untungnya ada polisi lewat depan rumahku, iapun langsung menghentikannya dan menanyakan duduk perkara tersebut.
Salah satu dari anak mereka berlari menangis entah kemana tujuannya. Ternyata ia disuruh bapaknya untuk lari dan jangan mendekati ibunya, entah apa maksudnya.

Ibuku yang melihatnya langsung memanggil dan merangkulnya kemudian membawanya masuk kerumah kami. Segera ku ambilkan air putih, iapun langsung meminumnya dengan segera seperti orang yang sangat kehausan.

“Kasihan sekali anak ini bu”. Aku merasa kasian padanya, anak sekecil ini seharusnya merasakan kasih sayang dari orang tuanya, dia malah menyaksikan sendiri pertengkaran kedua orang tuanya.

“Nak, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa orang tuamu bertengkar lagi?”. Tanya ibuku kepada Andi.

Hampir setiap hari orang tuanya bertengkar. Tapi, untuk kali ini kami sebagai tetangga tidak tinggal diam, karena mereka bertengkar tepat dihalaman samping rumahku.

Hidung Pak Pras berdarah karena dilempari istrinya dengan batu, luka-luka bekas lemparan batu juga terlihat dari punggung Pak Pras. Begitupun dengan anak bungsunya, berkali –kali Bu Astri melempari anak bungsunya dengan batu. Tapi sang anak terus menghindar dan iapun tidak terluka seperti yang di alami bapaknya yaitu Pak Pras.

Andi. Namanya Andi, anak bungsu dari Pak Pras dan Bu Astri. Setelah menghabiskan segelas air yang kuberikan padanya, iapun langsung menjelaskan kepada aku dan ibu kenapa orang tuanya bertengkar.

“Sebenarnya Bu Astri itu adalah ibu tiriku kak, dan Pak Pras adalah bapak kandungku. Sedangkan kak Alif adalah anak kandung dari Bu Astri dan bapakku adalah bapak tirinya”. Jelas Andi dengan suara terbata-bata karena menahan tangisannya.

Jadi, sebenarnya Bu Astri dan Pak Pras itu menikah sudah mempunyai anak masing-masing dari pasangan mereka sebelumnya dan belum mempunyai anak dari pernikahan mereka.

Baru sekarang kami mengetahui yang sesungguhnya, karena pertama kali mereka pindah  didesa ini mereka adalah tetangga kami yang paling tertutup dari tetangga-tetangga lainnya.

“Hampir setiap hari jika bapak pergi kerja, aku selalu dipukuli ibu, aku disuruh menyapu, mengepel, mencuci piring, memasak, sampai menyediakan air untuk ibu mandi itu semua aku yang kerjakan. Sementara kakakku Alif hanya bersenang-senang bermain layangan dengan teman-temannya dilapangan. Aku akan dimarahi dan dipukul ibu kalau aku ikut bermain dengan kak Alif.”

Air mataku menetes mendengar pengakuan dari Andi. Anak sekecil ini harus bekerja pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa atau ibunya sebagai seorang istri dari bapaknya.

“Pernah suatu hari, ketika bapak pulang dari kerja, upah yang didapatkan bapak dari kerjanya sebagai kuli bangunan diambil oleh ibu semuanya, tanpa disisakan sedikitpun untuk bapak. Uangnya dihabiskan ibu dan kak Alif pergi bersenang-senang. Sementara aku dan bapak dirumah kelaparan tak ada makanan, persediaan beraspun sudah habis”. Jelas Andi kembali.

“Pernah juga ketika bapak pergi dengan teman-teman kerjanya menuju tempat kerja, belum sampai ke tempat tujuan ibu sudah menelpon menyuruh bapak untuk pulang kerumah, hanya untuk mengambilkan air untuknya mandi. Setiap kali ibu dan bapak bertengkar, ibu selalu memukuli punggung bapak dengan batu hingga berdarah, tapi bapak tak pernah membalas, dia hanya diam saja. Jika uang dari hasil kerja bapak lebih, ibu selalu menuduh bapak yang tidak-tidak, ia mengatakan kalau uang itu hasil dari bapak mencuri atau main judi. Padahal bapak tidak pernah sama sekali melakukan itu. Mungkin sekarang kesabaran bapak sudah habis, maka dari itu bapak memukul dan menyeret-nyeret ibu seperti tadi.
Kata bapak tadi, bapak akan menceraikan ibu”. Kali ini  air mata Andi tak bisa ditahan lagi, ia sedih ketika mendengar bapaknya akan menceraikan ibu tirinya.

“Aku tak punya ibu lagi kak, tak ada lagi yang membangunkanku diwaktu sekolah. Tak ada lagi yang membangunkan aku sahur jika puasa nanti, aku pasti akan kangen banget sama ibu, aku sayang sama ibu kak.”

Ku peluk erat-erat tubuh mungil yang kurus didepanku, tak kuasa aku mendengar semua curahan hatinya. Aku tak habis pikir ia begitu sayang pada ibunya, sedangkan ibunya selalu dan hampir setiap hari menyiksanya. Aku salut padamu Andi, anak sekecil kamu mempunyai hati yang begitu baik, tak ada rasa dendam sedikitpun. Tiba-tiba aku merasa iri pada Andi, dengan hatiku ini yang masih rapuh dan mungkin masih ada dendam kapada orang lain.

“Sabar ya dek, masih ada kakak disini. Kamu bisa datang semau kamu, pintu rumah kakak selalu terbuka untukmu, kakak akan membantumu sabisa mungkin semampu kakak, kamu jangan sungkan-sungkan datang kesini yaa, Insyaa Allah kejadian ini ada hikmahnya untuk kamu, bapak, ibu, kakak kamu dan untuk kita semua.”

Keesokkan harinya. Seperti biasanya setelah sholat subuh aku selalu menghabiskan 1 juz Al-Qur’an untuk mengaji.
Tiba-tiba terdengar ada orang yang mengetuk pintu rumahku.

“Assalamu’alaikum…..” . terdengar suara seorang anak kecil yang tak asing lagi bagiku memberi salam dari balik pintu.

“Wa’alaikum salam warahmatullah”. Jawabku dengan segera menyelesaikan bacaan Qur’anku dan bergegas menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.

“Andi??? Ada apa? Kamu mau kemana? Pagi-pagi gini kok udah rapi?”.

Andi tak menjawab satupun pertanyaan dariku. Ia hanya menangis dan langsung memeluk tubuhku erat-erat. Aku bingung, kenapa Andi tiba-tiba menangis, apakah pertanyaanku salah? Atau?. Aku jadi takut jangan-jangan dia habis dipukuli ibu tirinya lagi. Tapi itu tidak mugkin, karena melihat penampilannya saat ini yang sudah rapi seperti mau pergi, lagian aku juga tidak bisa langsung su’udzhon.

“A,,a,ku ma..u pa..mi..tan kak. A..aku ma..u per..gi sama ba..pak.” Suaranya tersendat-sendat karena menahan tangis. “Te..rima ka..sih a..tas se..muanya ya kak, a..ku pasti sangat merindu..kan ka..kak.”

Akupun tak tahan menahan air mataku dan langsung memeluk erat Andi. Walaupun belum lama kita saling mengenal, dia sudah seperti adikku sendiri. Aku sangat menyayanginya.

“Kalian mau kemana dek? Kakak juga pasti akan sangat merindukanmu.”

“Kami mau ke kampung saya nak, di Palu, Sulawesi Tengah”.

Tiba-tiba ada suara seorang bapak terdengar dari arah belakang Andi  dan menjawab pertanyaan yang kutujukan pada Andi. Dan itu adalah bapaknya Andi.

“Pak Pras?,, Terus rumahnya?. Tanyaku pada Pak Pras sambil menunjuk ke arah rumah mereka tepatnya berada disamping rumahku. Karena ku tau setelah kejadian kemarin, Bu Astri langsung pergi ke kampung halamannya juga dengan membawa semua pakaiannya serta Alif anaknya.

“Insyaa Allah rumah kami nanti akan ada yang nempatin. Sekali lagi terima kasih ya nak Nisa, sudah menjadi tetangga yang baik buat kami.” Jawab Pak Pras.

“Iya pak, sama-sama. Sebagai tetangga kita harus saling membantu. Jaga dirimu baik-baik ya Andi, kak Nisa akan selalu merindukanmu”.

“Kalau begitu kami pergi dulu ya nak. Assalamu’alaikum…”.

“Iya pak. Hati-hati  dijalan. Wa’alaikumsalam warahmatullah…”  

Merekapun berlalu meninggalkanku yang masih mematung di depan rumahku melihat kepergian mereka.



Oleh : Nurlaila Abdurrahman

1 komentar:

  1. Sedih bacanya mbak, moga bapak dan anaknya dapat kehidupan yg lebih baik.

    BalasHapus